Trending

Diduga Mendukung ISIS, Australia Lacak 2 Pilot Asal Indonesia

Kamis, 09 Juli 2015 - 13:43 WIB - dibaca 1.034 kali
Bagikan
Diduga Mendukung ISIS, Australia Lacak 2 Pilot Asal Indonesia
The Intercept

Laporan intelijen kepolisian federal Australia (AFP) yang berjudul 'Identification of Indonesian pilots with possible extremist persuasions' didapatkan oleh majalah online Australia, The Intercept. Laporan tertanggal 18 Maret 2015 itu juga didistribusikan kepada penegak hukum di Turki, Yordania, London dan Amerika Serikat serta Europol.

Seperti dilansir media Australia, Sydney Morning Herald, Kamis (9/7/2015), pada Maret ini, kepolisian federal Australia mendapat peringatan soal dua pilot Indonesia yang bernama Ridwan Agustin dan Tommy Abu Alfatih yang kerap memposting informasi mendukung ISIS dalam akun Facebook mereka.

Ridwan Agustin diklaim sebagai lulusan pilot AirAsia pada tahun 2010 dan pernah menerbangkan rute internasional termasuk Hong Kong dan Singapura. Sedangkan Tommy Abu Alfatih diyakini lulusan dari sebuah sekolah penerbangan di Indonesia pada tahun 1999 dan pernah menjadi pilot Angkatan Laut Indonesia sebelum bergabung dengan Premiair, sebuah perusahaan penerbangan swasta di Indonesia.


Intelijen kepolisian Australia awalnya melacak akun Facebook Ridwan Agustin. Pada awal September 2014, akun Facebook itu masih menunjukkan aktivitas wajar dengan Ridwan banyak memposting foto-fotonya dalam seragam pilot dan berpose di depan pesawat maskapai Airasia.

Namun akhir September 2014, akun Facebook milik Ridwan ditutup dan diyakini dia membuat akun Facebook baru dengan nama samaran. Dalam akun Facebook yang baru itu, Ridwan menyebut keberadaannya di Raqqa, Suriah. Pelacakan istri Ridwan yang juga memiliki akun Facebook yang berteman dengan dua akun Facebook, baik yang sudah ditutup maupun yang baru, semakin meyakinkan bahwa Ridwan memang sudah diradikalisasi.

Dalam akun Facebook yang baru, Ridwan banyak memposting soal hal-hal yang mengindikasikan dukungan terhadap ISIS. Dia mulai berteman dan berinteraksi online dengan beberapa pengguna Facebook yang disinyalir pro-ISIS. Bahkan beberapa teman Facebook Ridwan tampak menampilkan foto pertempuran di Suriah dan Irak serta memposting foto-foto soal ISIS termasuk soal eksekusi mati yang dilakukan ISIS.

Ridwan juga mulai berkomentar di halaman Facebook milik seorang anggota Jamaah Islamiyah bernama Heri Kustyanto, yang diyakini kini ada di Suriah atau Irak dan bertempur bersama ISIS. Heri sendiri secara rutin memposting foto-foto dirinya menenteng senapan.

Saat itu, satu pilot Indonesia lainnya, Tommy Abu Alfatih mulai banyak me-like postingan Facebook Ridwan yang berbau ISIS. Dalam akun Facebook-nya, Tommy mulai banyak memposting soal ISIS pada Desember 2014. Dalam salah satu postingannya, Tommy menggunakan istilah 'ansharu thagut' untuk menyebut polisi. Istilah ini biasa digunakan pelaku jihad untuk menyebut polisi sebagai pendukung pemerintah yang menindas.

Mulai saat itu, Tommy banyak memposting hal-hal berkaitan ISIS hampir setiap hari. Beberapa bahkan menampilkan video dan foto media milik ISIS, termasuk foto mata uang yang akan digunakan ISIS dan pembukaan sekolah ISIS yang berbahasa Inggris di Suriah.

"Keduanya (pilot) tampaknya dipengaruhi oleh elemen pro-IS (ISIS) termasuk propaganda ekstremis online oleh forum radikal ternama Indonesia dan seorang terduga teroris Indonesia yang kemungkinan ada di Suriah atau Irak," demikian bunyi penggalan laporan intelijen AFP.

"Pilot, awak pesawat dan pihak lainnya yang memiliki akses terhadap dan di dalam dunia penerbangan bisa memberikan ancaman yang serius jika mereka diradikalisasi. Akses dan pengetahuan mereka soal keamanan dan keselamatan memberikan kemampuan untuk merencanakan serangan seperti yang terjadi dalam peristiwa global sebelumnya. Perlu diperhatikan juga bahwa edisi terbaru majalah Al-Qaeda, Inspire, secara aktif mendorong serangan dalam dunia penerbangan," imbuh laporan intelijen itu.

Sementara itu, pihak AirAsia menuturkan kepada The Intercept bahwa Ridwan Agustin dan istrinya sudah tidak lagi menjadi karyawan AirAsia Indonesia. "Oleh karena itu, kami tidak bisa banyak berkomentar soal pribadi keduanya," tutur juru bicara AirAsia, Audrey Petriny, kepada The Intercept.

Sedangkan pihak Premiair menjelaskan kepada The Intercept bahwa Tommy Abu Alfatih yang juga dikenal sebagai Tomi Hendratno sudah berhenti bekerja dari perusahaan itu mulai 1 Juni tahun ini. 

Tags

KOMENTAR

Komentar yang dikirimkan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim komentar.

Unable to open file!