Bengkulu Usaha sirup kalamansi yang dirintis sejak 2001 terus berkembang berkat pendampingan Bank Indonesia (BI). Dari usaha keluarga yang diwariskan orang tua, produk olahan jeruk kalamansi ini kini menjangkau pasar nasional melalui jaringan reseller di berbagai daerah, bahkan berpeluang menembus pasar internasional setelah lolos kurasi Dubai Expo.
Amanda, penerus usaha tersebut, mengatakan bahan baku jeruk kalamansi diperoleh dari kebun sendiri dan kelompok tani di sekitar Bengkulu Bengkulu Tengah. Namun, pasokan jeruk masih belum mencukupi sehingga pihaknya juga membeli dari petani lain.
“Kami ingin ikut memakmurkan kelompok tani. Harga jeruk mengikuti kondisi pasar. Saat panen raya, harganya bisa Rp5.000 per kilogram,” kata Amanda, Minggu (11/10) di Bencoolen Fest 2026 Bencoolen Mall.
Selain keterbatasan pasokan jeruk, kenaikan harga gula juga menjadi tantangan dalam menjaga keberlangsungan produksi.
Untuk memperluas pasar, usaha ini mendapat pendampingan BI berupa pelatihan pemasaran digital, fasilitasi pameran di luar daerah, kurasi produk, serta dukungan pengembangan usaha.
Pendampingan tersebut turut mendorong lahirnya produk turunan, seperti es krim kalamansi dan minuman siap konsumsi, serta pengembangan produk keripik nangka.
Amanda mengapresiasi dukungan BI yang telah mendampingi usaha keluarganya sejak generasi orang tuanya hingga saat ini. Menurutnya, pendampingan tersebut membantu usaha beradaptasi dengan pemasaran digital dan memperluas jangkauan penjualan.
“Dulu orang tua saya belum memahami pemasaran digital. Sekarang kami sudah bisa memasarkan produk melalui platform digital, mengikuti pameran di luar kota, bahkan lolos kurasi Dubai Expo. Kami sangat berterima kasih kepada Bank Indonesia,” ujarnya.







